Bukan hanya kepada manusia, cinta juga juga berlaku bagi semua makhluk hidup. Cinta yang kamu rasakan terhadap keluarga atau terhadap anjing peliharaanmu tentu begitu murni dan tanpa syarat, bukan?

Ketulusan cinta tersebut yang nampaknya membuat banyak orang bertanya-tanya, mengapa seseorang bisa memiliki emosi yang begitu kuat terhadap anjing  peliharaannya layaknya kepada anak sendiri.

Menyayangi Anjing
Menyayangi Anjing

Melansir Bright Side, Jumat (30/11/2018), sebuah penelitian dari Massachutes General Hospital menemukan dan menganalisis hubungan antara ikatan ibu-anak dengan ikatan manusia-hewan peliharaan melalui persamaan teori keterikatan manusia.

Teori tersebut mengacu pada keterikatan yang dirasakan oleh individu (pengasuh) yang memberikan keamanan, kasih sayang dan keamanan kepada seorang anak.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji neuroanatomi fungsional dari dua ikatan melalui analisis pola fungsi otak ketika seseorang melihat gambar anak mereka dan anjing yang dipelihara.

Penelitian ini berfokus pada wilayah otak yang diketahui terkait dengan perkembangan emosi dan ikatan hubungan. Responden yang diutamakan yakni ibu yang memiliki anak antara umur 2 – 10 tahun dan memiliki anjing selama lebih dari satu tahun.

Menurut Lori Palley peneliti utama dalam studi ini, mengatakan bahwa sangat jelas bila hewan peliharaan memiliki tempat khusus dalam kehidupan dan hati seseorang. Sebab memiliki hewan peliharaan dapat sangat bermanfaat bagi manusia karena hewan peliharaan menawarkan dukungan sosial dan emosional.

Anjing selalu menjadi anak kecil yang tak pernah tumbuh dewasa. Mereka (anjing) ingin bersenang-senang, suka memberi kasih sayang dan mencintaimu tanpa syarat.

Seorang Ibu menjadi pengasuh alami di mata anak maupun mahluk berbulu seperti anjing, tentu keduanya memegang tempat yang sama di hati mereka. Keduanya juga menjadi bagian dari keluarga, teman baik, dan yang paling penting mereka sangat cerdas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here